Linggawati
Sungkono, Unit Account Officer
Bank Central Asia
KCU Malang
Jl. Basuki Rahmat 70 – 74 Malang
Ikut OBI ? It’s an unforgetable memory in my life ! Sungguh suatu
pengalaman yang takkan terlupakan seumur hidupku. Bukan karena ini
pengalamanku ikut Outward Bound pertama kali, tapi bagaimana Outward
Bound mengubah hidupku. Begini ceritanya.
Bulan Agustus 2005, saya dikirim kantor saya yaitu BCA Malang untuk
mengikuti Program Pelatihan Pratama. Terus terang saya tidak
berminat, malas, kuatir dan seabreg perasaan bercampur aduk. Pertama
karena training yang saya harus jalani ini 2 bulan dan harus
berpisah dari rumah sedemikian lama, kedua karena ada aspek
outdoornya!
Dillema Ikut OBI
Setelah menjalani training Pratama selama ± 1 bulan, akhirnya
tibalah saatnya untuk training Outward Bound. Sehari sebelum Outward
Bound saya jatuh sakit. Maag saya kumat ! Penyebabnya selain saya
stress karena program OBI namun juga karena saya harus mengikuti
ujian sehari sebelum OBI. Sepanjang malam saya bergelut dengan
perasaan saya sendiri, ikut OBI ga ya? Kalau ga ikut, harus
mengulang. Kalo ikut, bisa ga ya? Sejuta pertanyaan dan kecemasan
berkecamuk. Paginya saya putuskan ikut, dengan kondisi tubuh masih
lemas dan kepala pusing. Sepanjang perjalanan ke lokasi OBI di
Bendungan Jatiluhur saya berusaha tidur dan menenangkan perasaan
saya, whatever will be will be.
Ketakutan akan Ketinggian
Setelah melalui perjalanan, sampailah kita di lokasi Outward Bound
Indonesia di Bendungan Jatiluhur. Kita dibagi menjadi 3 tim, dengan
instructor untuk tim kita Kak Sisca. Awal pertemuan, Kak Sisca
menanyakan siapa yang merasa takut. Saya langsung mengacungkan
tangan, demikian juga dengan beberapa teman saya. Acara dimulai
dengan game “trust fall” yaitu menjatuhkan diri dan teman-temannya
menyangga. Saya tidak bisa menjalankan dengan sempurna, karena saya
ragu dan tidak yakin. Berikutnya, kegiatan di ketinggian high ropes
(sambil menulis ini saya kembali merasakan ketegangannya!). Salah
satu rintangan saya lewati dalam waktu yang lama. Saya merasa perlu
menata hati saya dulu, menumpuk keberanian dan menenangkan hati, dan
itu butuh waktu yang tidak sedikit.
Mungkin ini juga ada kaitannya dengan sejarah hidup saya. Di
keluarga, saya terlahir sebagai anak perempuan satu – satunya dari 4
bersaudara. Hal itu tidak membuat saya tomboi, malahan cenderung
terlalu dilindungi dan tidak diperbolehkan beraktivitas di luar.
Sehingga bermain ayunan pun bila agak sedikit tinggi (menurut ukuran
saya!) sudah membuat saya ketakutan. Memanjat pohon seumur – umur
tidak pernah, apalagi kemudian saya pindah ke kompleks ruko yang
tidak ada pohon yang bisa dipanjat. Sampai besar pun saya juga
cenderung takut ketinggian, phobia istilah kerennya.
Makna Sesungguhnya Teamwork
Untunglah teman – teman saya dalam satu tim bersabar menunggu, meski
akhirnya tim kita selesainya paling lama, gara – gara saya. Saya
memang akhirnya berhasil menyelesaikan seluruh rintangan dan
menangis tersedu – sedu setelah menyelesaikannya, karena masih
ketakutan dan gemetar. Seluruh anggota tim dianjurkan menyelesaikan
seluruh rintangan sebelum lanjut ke program berikutnya. Saya tidak
mungkin egois tidak mau partisipasi dan membiarkan anggota tim lain
terkatung – katung, padahal beberapa teman dalam tim saya sangat
enjoy menjalani rintangan dan malahan kepingin lagi (benar – benar
saya tidak habis pikir).
Pelajaran Tak Terlupakan
Ketika OBI selesai, saya banyak merenung dan menyadari sudut pandang
hidup saya yang berubah. Satu pelajaran penting adalah ketakutan dan
kecemasan yang saya rasakan sebenarnya tidak perlu, takut dan cemas
adalah wajar namun jangan sampai mengubah fokus kita. Kedua, bila
kita tidak mencoba maka kita juga tidak akan pernah tahu kalau kita
bisa berhasil. Ketiga adalah bagaimana kita bisa bekerja sama dalam
tim dan mengesampingkan ego pribadi. OBI, sungguh suatu pengalaman
yang tak terlupakan dan banyak manfaat yang kuperoleh. Hidup OBI !
Outward Bound® Indonesia A Member of Outward Bound
International
|